Kamis, 10 Oktober 2013

Bodohnya aku,

Di kamar,,,
Rabu, 9 Oktober 2013
22:59 WIB

Malam ini aku gak bisa tidur,
Air mataku tak terbendung,
Malam ini seluruh organ tubuhku serasa mengkerut, perut melilit, kepala cenut-cenut.
Tapi semua rasa sakit itu tak seberapa bila dibandingkan dengan kesakitan hatiku. Luarr dalam. Lebih dari sekedar biasa.
Lengkap sudah penderitaanku sebagai seorang wanita yang memang tak seberapa ini.
Baru ku sadari betapa bodohnya aku selama ini dan betapa benarnya dia. Memang, bukan orang bodoh namanya kalo menyadari kebodohannya itu diawal. Tapi aku bersyukur, Allah telah menyadarkanku hari ini, bukan nanti, besok atau lusa. Jadi aku tak perlu lebih berlama-lama lagi menjadi orang bodoh dan akan semakin bodoh.
Aku berjanji, demi diriku dan suku bangsaku, aku akan menjadi orang yang pintar dan cermat. Mulai malam ini, tak akan ku ulangi segala kebodohanku lagi. Biarlah apa kata mereka, biar saja anjing menggonggong sesuka hatinya. Aku tak perduli. Aku muak menjadi orang baik. Orang baik selalu ditindas oleh orang yang kurang baik atau orang yang selalu menganggap dirinya itu lebih pantas untuk dikatakan baik.

Seperti yang pernah aku bilang pada postingan sebelumnya. Menjadi orang jahat itu penting pada saat-saat tertentu dan pada orang-orang tertentu. Mungkin ini adalah waktunya. Waktuku untuk cuti menjadi orang baik. Karna aku lelah diperlakukan sedemikian ini. Aku hanya berusaha selalu bersikap baik kepada orang lain apalagi kepada sesama teman, mencoba untuk saling membantu dan saling memahami satu sama lain. Namun nihil yang kudapat. Mungkin memang benar adanya, karakter orang itu berbeda-beda. Satu wajah saja bisa memiliki berjuta muka. Mungkin semua kebaikan yang telah kulakukan belum cukup bagi mereka. Lantas aku harus menjadi seperti apa?? Entahlah... Semua yang kulakukan itu tiada harganya.

Aku cukup tau saja. Menganalmu sekian lama semakin membuatku tau kamu seperti apa. Dan mungkin  hari ini adalah puncak dari semuanya. Sudah cukup ku mengenalmu. Sampai disini saja aku memahamimu. Maaf,, aku tak bisa lagi ada untukmu karna aku memang tak mau. Aku sadar betul atas semua pemikiranku, kamu memang tak pantas untuk diperhitungkan dalam kategori itu. Orang yang selalu memujamu dan menganggapmu hebat itu, tak akan selamanya memandangmu dengan mata berbinar seperti saat ini. Cahaya itu akan redup dengan seketika. Dia akan tau seperti apa kamu sesungguhnya. Eksistensimu akan sirna seiring terbenamnya sang surya. Maaf kawan, bukannya aku menghujat. Kamu memang tak pantas disebut sobat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar