Di kamar,,,
Rabu, 9
Oktober 2013
22:59 WIB
Malam ini aku
gak bisa tidur,
Air mataku tak
terbendung,
Malam ini
seluruh organ tubuhku serasa mengkerut, perut melilit, kepala cenut-cenut.
Tapi semua
rasa sakit itu tak seberapa bila dibandingkan dengan kesakitan hatiku. Luarr
dalam. Lebih dari sekedar biasa.
Lengkap sudah
penderitaanku sebagai seorang wanita yang memang tak seberapa ini.
Baru ku sadari
betapa bodohnya aku selama ini dan betapa benarnya dia. Memang, bukan orang
bodoh namanya kalo menyadari kebodohannya itu diawal. Tapi aku bersyukur, Allah
telah menyadarkanku hari ini, bukan nanti, besok atau lusa. Jadi aku tak perlu
lebih berlama-lama lagi menjadi orang bodoh dan akan semakin bodoh.
Aku berjanji,
demi diriku dan suku bangsaku, aku akan menjadi orang yang pintar dan cermat.
Mulai malam ini, tak akan ku ulangi segala kebodohanku lagi. Biarlah apa kata
mereka, biar saja anjing menggonggong sesuka hatinya. Aku tak perduli. Aku muak
menjadi orang baik. Orang baik selalu ditindas oleh orang yang kurang baik atau
orang yang selalu menganggap dirinya itu lebih pantas untuk dikatakan baik.
Seperti yang
pernah aku bilang pada postingan sebelumnya. Menjadi orang jahat itu penting
pada saat-saat tertentu dan pada orang-orang tertentu. Mungkin ini adalah
waktunya. Waktuku untuk cuti menjadi orang baik. Karna aku lelah diperlakukan
sedemikian ini. Aku hanya berusaha selalu bersikap baik kepada orang lain
apalagi kepada sesama teman, mencoba untuk saling membantu dan saling memahami
satu sama lain. Namun nihil yang kudapat. Mungkin memang benar adanya, karakter
orang itu berbeda-beda. Satu wajah saja bisa memiliki berjuta muka. Mungkin
semua kebaikan yang telah kulakukan belum cukup bagi mereka. Lantas aku harus
menjadi seperti apa?? Entahlah... Semua yang kulakukan itu tiada harganya.
Aku cukup tau
saja. Menganalmu sekian lama semakin membuatku tau kamu seperti apa. Dan
mungkin hari ini adalah puncak dari
semuanya. Sudah cukup ku mengenalmu. Sampai disini saja aku memahamimu. Maaf,,
aku tak bisa lagi ada untukmu karna aku memang tak mau. Aku sadar betul atas
semua pemikiranku, kamu memang tak pantas untuk diperhitungkan dalam kategori
itu. Orang yang selalu memujamu dan menganggapmu hebat itu, tak akan selamanya
memandangmu dengan mata berbinar seperti saat ini. Cahaya itu akan redup dengan
seketika. Dia akan tau seperti apa kamu sesungguhnya. Eksistensimu akan sirna
seiring terbenamnya sang surya. Maaf kawan, bukannya aku menghujat. Kamu memang
tak pantas disebut sobat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar