Hahahah...
Mungkin hanya
logat itu yang bisa aku lontarkan acapkali ketiban sebuah pujian. Bukan tanpa
alasan, sengaja ku favoritkan logat itu karna menurutku hanya itu(hahaha) yang
bisa mewakili semua kata. Rasanya memang menyenangkan mendengar seseorang
menghujat kita dengan pujian-pujiannya. Tapi bisa juga terasa amat sangat
menyakitkan tatkala dalam pujian itu nyelip selampir hujatan penuh makna.
"Kau
cantik hari ini", ku dapatkan pujian itu hampir setiap pagi di lobi
sekolah. Jujur saja, itu sempat membuatku salah tingkah.
"Ibuk
cantiiiiikkk..", sapaan itu yang selalu ku dengar disela hari-hariku yang
melelahkan(kecuali hari minggu). Terimakasih nak,, itu cukup membuat pipi ibuk
kepanasan. Sudah, cukup cukup, nanti lama-lama ibuk bisa kebakar. Memang,
setiap orang pasti suka apabila dirinya dipuji oleh orang lain, mungkin aku pun
termasuk didalamnya. Bukankah sebenarnya semua pujian itu sebagai tanda kalau
kita baik dimata orang lain bukan,??. Tak heran kalau dijaman sekarang ini
banyak orang yang berlomba-lomba melakukan kebaikan semata-mata untuk
mendapatkan simpati dan pujian dari orang lain.
Namun bukan
tidak mungkin kalau kita bisa bosan mendengar pujian yang sama disetiap
harinya, muak bahkan. Aku rasa yang seperti itu sudah tidak benar, pasti
terdapat kebohongan didalamnya alias pujian yang mereka lontarkan sudah tidak
sesuai dengan kenyataan alias bohong belaka.
Beberapa hari
yang lalu aku bertemu dengan seorang ibu paruh baya, setelah kutilik, rupanya
beliau adalah salah satu PNS di kota tercintaku ini. Kami sempat saling
melontar tawa, beliau pun sempat bercerita sepanjang rel kereta, tentang
hidupnya dan keluarga tercintanya. Namun, tetiba aku tercengang, aku terdiam
saat beliau berkata "kamu ini calon mantu idaman ibuk", ditambah lagi
dengan serentetan pujian-pujiannya. Lagi-lagi aku hanya bisa melontarkan logat
andalanku, "hahahahah". Ku lihat beliau hanya tersenyum lembut
melihat wajahku yang entah berwarna apa kala itu, aku pun tak berani melirik
kearah cermin yang tengah bersandar tepat dibahu kiriku. Aku tak tau, mengapa
beliau berucap sedemikian lucu menurutku. Ditambah lagi, beliau
mendemonstrasikan putra sulungnya padaku. Makin tergelitik perutku, terasa
diraba oleh tangan-tangan ayam yang berbulu. Rasanya sulit membuatku terharu
biru saat itu, aku terlalu bergempita oleh ucapan-ucapan seorang ibu. Begitu
tinggi beliau menyanjungku, begitu besar beliau mengharapku.*Yang benar saja
Aduh aduh...
Untung saja aku tak terayu. :D
Kita kan baru
kenal bu.,, jangan mengambil kesimpulan seexpress itu.. :D
