Menjadi orang
jahat itu tidak baik. Terlalu baik pun tidak baik juga. Ada baiknya kalo
keduanya itu seimbang saja. Agar tidak tumpang tindih maka keduanya dibuat sama
rata. Jangan gigi saja yang dipagar agar rapi dan rata, harusnya kelakuan juga.
Menjadi orang jahat itu susah, apalagi seperti saya ini yang sudah terlahir
sebagai orang yang baik hati. Sudah baik, pintar, cantik, rajin mengaji, rajin
menabung lagi,, *hahhaaha. Habis gak ada yang memuji sih, jadinya ya dipuji
sendiri. :D
Tak bisa
dipungkiri, terkadang memang membosankan menjadi orang baik. Apalagi kalau
kebaikan yang saya lakukan itu dimanfaatkan oleh orang lain semata demi
kepentingan mereka pribadi. Rasanya memuakkan melihat face mereka yang
mentertawakan kepolosan dan kesusahan saya, mereka tau saya tidak akan marah
melihat mereka melakukan itu. Saya pun tau saya tidak mampu untuk meluapkan
kemarahan saya pada mereka. Mungkin saya bisa ikut melenggang tawa bersama
mereka, mentertawakan diri saya sendiri dengan polosnya. Dan pada saat itu saya
merasa tengah mengenakan masker bengkoang yang sangat tebal hingga tak
seorangpun tau mimik wajah saya.
Menjadi orang
jahat itu penting. Penting untuk menjaga keselarasan soul kita. Jahat disini
bukan berarti kita harus melakukan kekerasan kepada orang lain, bukan juga
harus merampok atau melakukan mutilasi seperti yang ada di koran atau berita TV
setiap hari. Karna yang seperti itu namanya bukan jahat, melainkan penjahat.
Menjadi jahat disini semata-mata untuk mempertahankan posisi berdiri saja agar
tak mudah digeser atau ditumbangkan dengan mudah oleh orang lain. Pada
hakikatnya ini adalah salah satu bentuk benteng pertahanan diri. Tupai
mempertahankan dirinya dengan cara mengeluarkan bau tidak sedap dari lubang
anusnya (bisa dibilang kentut) agar tidak ada pengganggu yang mendekat dan
mengancam keselamatannya. Begitu pula dengan manusia seperti saya, mungkin
dengan bersikap jahat pada orang-orang pengganggu akan membuat mereka
perlahan-lahan jera untuk mengganggu saya, syukur-syukur lagi kalau mereka bisa
merubah sikap mereka menjadi orang yang lebih baik. Sebenarnya mereka baik,
saya tau itu, hanya saja terkadang sikap mereka terasa sangat jahat terhadap
saya dan mengancam prioritas hidup saya.
Tentu saja,
menjadi jahat itu hanya perlu dilakukan sekali-sekali saja bila memang dirasa
perlu untuk melakukannya. Setelah semuanya dianggap beres dan telah kembali
membaik pada posisi semula, sikap itu harus dibuang dulu dari peradaban umat
manusia. ;)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar