Sabtu, 05 Oktober 2013

Jahat itu penting (saat diperlukan)

Menjadi orang jahat itu tidak baik. Terlalu baik pun tidak baik juga. Ada baiknya kalo keduanya itu seimbang saja. Agar tidak tumpang tindih maka keduanya dibuat sama rata. Jangan gigi saja yang dipagar agar rapi dan rata, harusnya kelakuan juga. Menjadi orang jahat itu susah, apalagi seperti saya ini yang sudah terlahir sebagai orang yang baik hati. Sudah baik, pintar, cantik, rajin mengaji, rajin menabung lagi,, *hahhaaha. Habis gak ada yang memuji sih, jadinya ya dipuji sendiri. :D

Tak bisa dipungkiri, terkadang memang membosankan menjadi orang baik. Apalagi kalau kebaikan yang saya lakukan itu dimanfaatkan oleh orang lain semata demi kepentingan mereka pribadi. Rasanya memuakkan melihat face mereka yang mentertawakan kepolosan dan kesusahan saya, mereka tau saya tidak akan marah melihat mereka melakukan itu. Saya pun tau saya tidak mampu untuk meluapkan kemarahan saya pada mereka. Mungkin saya bisa ikut melenggang tawa bersama mereka, mentertawakan diri saya sendiri dengan polosnya. Dan pada saat itu saya merasa tengah mengenakan masker bengkoang yang sangat tebal hingga tak seorangpun tau mimik wajah saya.

Menjadi orang jahat itu penting. Penting untuk menjaga keselarasan soul kita. Jahat disini bukan berarti kita harus melakukan kekerasan kepada orang lain, bukan juga harus merampok atau melakukan mutilasi seperti yang ada di koran atau berita TV setiap hari. Karna yang seperti itu namanya bukan jahat, melainkan penjahat. Menjadi jahat disini semata-mata untuk mempertahankan posisi berdiri saja agar tak mudah digeser atau ditumbangkan dengan mudah oleh orang lain. Pada hakikatnya ini adalah salah satu bentuk benteng pertahanan diri. Tupai mempertahankan dirinya dengan cara mengeluarkan bau tidak sedap dari lubang anusnya (bisa dibilang kentut) agar tidak ada pengganggu yang mendekat dan mengancam keselamatannya. Begitu pula dengan manusia seperti saya, mungkin dengan bersikap jahat pada orang-orang pengganggu akan membuat mereka perlahan-lahan jera untuk mengganggu saya, syukur-syukur lagi kalau mereka bisa merubah sikap mereka menjadi orang yang lebih baik. Sebenarnya mereka baik, saya tau itu, hanya saja terkadang sikap mereka terasa sangat jahat terhadap saya dan mengancam prioritas hidup saya.

Tentu saja, menjadi jahat itu hanya perlu dilakukan sekali-sekali saja bila memang dirasa perlu untuk melakukannya. Setelah semuanya dianggap beres dan telah kembali membaik pada posisi semula, sikap itu harus dibuang dulu dari peradaban umat manusia. ;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar